90% Bank Sentral di Dunia Kerek Bunga, Wall Street KO Lagi!

idfakta.comJakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kembali turun setelah sebelumnya membukukan pelemahan 4 hari beruntun. Artinya, sejak The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga Kamis pekan lalu, Wall Street belum pernah menguat.

Indeks S&P 500 dibuka turun 0,26% dan Nasdaq minus 0,54%. Indeks Dow Jones melemah tipis kurang dari 0,1%.

“Masih belum ada penampakan Santa, bersiaplah,” kata Louis Navallier, founder perusahaan investasi Navellier & Associates, sebagaimana dilansir CNBC International.

Pernyataan tersebut merujuk pada Santa Claus Rally. Untuk diketahui, Santa Claus Rally merupakan sebuah reli di pasar saham AS yang terjadi pada lima perdagangan terakhir di bulan Desember hingga 2 hari perdagangan pertama di bulan Januari.

Namun, dengan tekanan yang besar, Santa kemungkinan tidak akan datang.

Kenaikan suku bunga The Fed yang masih akan berlanjut di awal tahun depan memberikan sentimen negatif ke pasar saham.

Tidak hanya The Fed, bank sentral lainnya juga melakukan hal yang sama.

“Lebih dari 90% bank sentral sudah menaikkan suku bunga di tahun ini, upaya (untuk menurunkan inflasi) ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Lawrence Gillum, fixed income strategist di LPL Financial.

Semakin tinggi suku bunga, maka inflasi bisa diturunkan. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang dikorbankan.

Dengan banyaknya bank sentral mengerek suku bunga, maka dunia terancam mengalami resesi di tahun depan.

Resesi sepertinya hampir pasti terjadi, tetapi seberapa parah itu yang belum diketahui.

Inggris menjadi salah satu yang diprediksi mengalami resesi yang panjang. Tidak hanya itu, Confederation of British Industri (CBI) Inggris memperkirakan Inggris akan mengalami “dasawarsa yang hilang” atau “lost decade“.

Jepang pernah mengalaminya, di mana pertumbuhan ekonominya sangat rendah hingga negatif pada periode 1991 – 2000.

“Kita akan melihat dasawarsa yang hilang jika tidak ada langkah yang diambil,”kata Tony Danker, Direktur Jenderal CBI sebagaimana dilansirCNN Business, Rabu (5/12/2022).

error: Content is protected !!