Cerita Sri Mulyani Sehatkan Waskita dari Keterpurukan

Cerita Sri Mulyani Sehatkan Waskita dari Keterpurukan
Cerita Sri Mulyani Sehatkan Waskita dari Keterpurukan

idfakta.com – Emiten BUMN karya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) memiliki utang jumbo yang ditimbulkan pembangunan tol mencapai Rp 54 triliun. Tidak heran, Waskita mendivestasikan seluruh aset jalan tolnya hingga 2025 mendatang.

Bukan cuma itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menegaskan bahwa pemerintah tidak cuma menugaskan Waskita namun juga memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Pemerintah tidak hanya meminta dari Waskita, tapi juga memberikan PMN bagi Waskita, ini proses penyehatan agat BUMN bisa sehat ke depan,” jelas Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (6/9/2022).

BUMN merupakan agen pembangunan bagi negara, namun kondisi keuangan harus tetap sehat. “Agar BUMN bisa terus membuat fresh money, ini tentu mindset yang berbeda dan harus dilatih. BUMN diciptakan untuk membangun Indonesia dan pembangunan juga harus bisa menjaga neraca keuangan tetap sehat,” jelas Sri Mulyani.

Waskita juga menjadi salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan melakukan privatisasi dengan Rights Issue. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan ada delapan strategi untuk penyehatan Waskita.

“Agar dikelola untuk dapat mempercepat kinerja keuangan Waskita agar bisa memperlihatkan perbaikan pada rasio keuangan, arus kas, dan pendapatan usaha kembali ke kapasitas normal dan laba bersih bernilai positif,” jelas Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI, beberapa waktu lalu.

Selain itu dalam rapat tersebut, Sri Mulyani juga mengatakan jika Waskita dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus menjamin kualitas dan multiplier efek pada lapangan kerja, UMKM, dan juga ekonomi lainnya.

Adapun delapan strategi penyehatan Waskita Karya antara lain, pertama divestasi sebanyak lima dari target 13 ruas rol yang dimiliki untuk perolehan dana pembayaran dan dekonsolidasi (recycling asset).

Kedua melalui penjaminan pemerintah, yakni dengan pinjaman sindikasi perbankan dengan plafon sebesar Rp 8,077 triliun, dan obligasi serta sukuk dengan plafon sebesar Rp 5,6 triliun.

Ketiga melalui restrukturisasi utang induk sebesar Rp 48 triliun dengan 21 kreditur pada 2021. Keempat restrukturisasi utang anak, yaitu WTR, WKR, dan WKI dan yang saat ini sedang berproses adalah WSBP.

Kelima, Penyertaan Modal Negara (PMN) pada 2021 sebesar Rp 7,9 triliun, dan pada 2022 sebesar Rp 3 triliun. Keenam restrukturisasi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas dan efisiensi. Ketujuh yaitu penyelesaian ruas tol khusus seperti Kayu Agung-Palembang-Betung, dan ruas tol Kuala Tanjung.

Terakhir adalah perbaikan kinerja terus-menerus, efisiensi, GCG, dan manajemen risiko dalam rangka memberikan nilai tambah untuk mendukung perusahaan dalam mencapai tujuan.