Waspada! Ancaman Resesi Bisa Datang Lebih Cepat, Bagusnya Investasi Apa?

Waspada! Ancaman Resesi Bisa Datang Lebih Cepat, Bagusnya Investasi Apa?
Waspada! Ancaman Resesi Bisa Datang Lebih Cepat, Bagusnya Investasi Apa?

idfakta.com – Principal Indonesia memaparkan tantangan dan solusi dalam mengatasi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2022 dan 2023. Perekonomian Indonesia pada awal tahun ini disebut sudah membaik meski dibayangi inflasi tinggi di beberapa negara.

“Namun setelah meningkatkan tensi geopolitik, ketidakpastian pada perekonomian kembali menjadi perhatian utama disebabkan oleh inflasi yang tidak kunjung turun akibat krisis energi dan pangan, serta potensi melambatnya pertumbuhan dunia,” kata (CIO Malaysia & CIO Equities for ASEAN Region, Principal Asset Management Malaysia, Patrick Chang dalam keterangannya, Kamis (8/9/2022).

Patrick melanjutkan ancaman resesi dunia diperkirakan terjadi lebih cepat pada 2023 dibandingkan prediksi awal pada 2024 akibat kenaikan suku bunga sebagai respons dari inflasi tinggi namun dibarengi dengan perlambatan pertumbuhan PDB global.

“Penggerak utama ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan China sedang berusaha menghadapi tantangan perekonomiannya masing-masing,” ujarnya.

Ia menyebut Bank Sentral AS, The Fed menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan yang agresif. Sementara itu, China yang saat ini masih melakukan lockdown di beberapa daerahnya serta mengalami masalah di sektor properti, juga masih berusaha membangkitkan perekonomiannya.

“Dengan tidak menghadapi inflasi tinggi seperti Kawasan Eropa maupun Amerika, pemerintah China diharapkan bisa mengendalikan ekonominya dengan kebijakan moneter maupun fiskalnya. China dengan rencana investasi besarnya di FAI (Fixed Asset Investment) di infrastruktur diharapkan bisa membalikkan arah perekonomian,” tuturnya.

Asia dinilai menjadi kawasan yang cukup baik untuk berinvestasi mengingat kawasan lain seperti Eropa dan Amerika terdampak langsung oleh krisis energi dan geopolitik.

“Lebih khusus lagi, kawasan ASEAN menjadi pilihan investor karena menjadi kawasan yang diuntungkan akibat harga komoditas yang tinggi serta beralihnya rantai pasokan beberapa produk dari China ke ASEAN,” tambahnya.

Patrick menyarankan untuk berinvestasi dengan menyadari risiko investasi terlebih dahulu dan mendiversifikasi investasinya. Pilihan perusahaan yang layak dijadikan tempat investasi adalah perusahaan dengan arus kas solid, bisa membagikan dividen, mewakili tema pembukaan ekonomi, serta memiliki fundamental yang baik.

Selain itu diharapkan investor memiliki rentang yang panjang dalam berinvestasi. Sektor yang dimaksudkan bisa meliputi sektor keuangan, konsumsi, jasa komunikasi, dan teknologi.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Sementara itu, CIO Fixed Income for ASEAN Region, Principal Asset Management Malaysia Jesse Liew memaparkan jika suku bunga bank sentral dikurangkan dengan inflasi, banyak negara telah berada pada posisi suku bunga riil negatif, termasuk Indonesia. Pada saat yang bersamaan, pasar modal saat ini telah memperhitungkan probabilitas resesi yang cukup tinggi di negara maju seperti Amerika dan Eropa.

“Oleh karena kondisi kurang kondusif, permintaan obligasi di Eropa dan Amerika berkurang drastis dan memicu arus keluar dari obligasi. Demikian pula untuk pasar modal negara berkembang seperti Indonesia, namun permintaan domestik yang cukup besar serta adanya skema burden sharing antara BI dan Kementerian Keuangan, dapat memberikan penyeimbang dari arus keluar investor asing,” katanya.

Jesse menyarankan investor untuk memilih strategi durasi pendek untuk memitigasi risiko perlambatan pertumbuhan dan suku bunga tinggi.

“Akibat adanya kenaikan Pertalite dan Pertamax beberapa saat yang lalu, inflasi dalam jangka pendek diperkirakan akan meningkat ke level 6.3% untuk tahun 2022. Defisit anggaran akan kembali ke level 3% untuk tahun 2023 dan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun pada 7.85% akibat tidak berlanjutnya program burden sharing,” ujarnya.

CIO PT Principal Asset Management, Ni Made Muliartini mengatakan meski kondisi perekonomian dunia saat ini sedang carut marut, ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Kondisi ini dimungkinkan karena Indonesia secara geografis jauh dari daerah konflik geopolitik serta cukup diuntungkan oleh kondisi harga komoditas yang tinggi.

“Kenaikan bahan bakar minyak yang terjadi awal September ini menjadi langkah penting pemerintah walaupun menghadapi banyak tentangan dari masyarakat. Inflasi diperkirakan akan meningkat untuk beberapa bulan ke depan terlebih pengusaha kemungkinan akan membebankan kenaikan BBM ini ke dalam harga produknya,” ujarnya.