Batik Motif Ecoprint Mulai Mendunia

Batik Motif Ecoprint Mulai Mendunia
Batik Motif Ecoprint Mulai Mendunia

idfakta.com – g src=”https://foto.kontan.co.id/kiSGfZ-g6npdGMai_Az9oo8ci_k=/smart/2021/11/14/180705279t.jpg”>

JAKARTA. Batik jelas sudah sangat populer di pasar mancanegara. Dan, ada satu motif batik yang mulai digandrungi di luar negeri, ecoprint. Yakni, batik cetak dengan motif aneka macam daun, bunga, dan batang pohon.

Salah satu produk batik ecoprint yang punya banyak peminat di negeri orang adalah besutan Pintya Dwanita Ayu, yang mengusung label Batik Prateshi.

Usaha batik yang sudah ia bangun sejak 2018 itu berhasil menembus pasar mancanegara lewat pihak ketiga. Mulai Malaysia, Singapura, Filipina, Korea Selatan, Jepang, hingga Uni Emirat Arab.

Keberhasilan Pintya menembus pasar ekspor tersebut tidak terlepas dari upaya terus-menerus menampilkan motif ecoprint yang selalu baru. Enggak jauh-jauh, dia memakai motif daun, bunga, dan batang pohon yang ada di sekitar tempat tinggalnya di Semarang, Jawa Tengah.

Pintya mengambil inspirasi motif ecoprint dari daun, bunga, dan batang pohon ada dan dia tanam di sekitar rumahnya di daerah Banyumanik, Semarang.

“Jadi, saya menanam sendiri tanaman sesuai dengan motif yang diinginkan, baik itu di rumah saya maupun di rumah para perajin,” katanya.

Saat ini, sudah ada enam perajin yang bergabung dengan Batik Pratesthi. Usaha yang mendapat binaan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) ini berencana menambah dua perajin lagi. Dengan begitu, produksi kain batik motif ecoprint bisa terdongkrak hingga 30% dari saat ini yang baru 80 lembar kain setiap bulan.

Dengan tambahan perajin, Pintya pun berencana menambah produk batik motif ecoprint. Tidak cuma sebatas kain tetapi juga produk lain berbahan batik motif ecoprint, seperti sajadah dan dompet.

Untuk pemasaran produk batik motif ecoprint, Pintya memanfaatkan jalur online dan offline. Khusus kanal offline, dia sudah punya toko pemasok Batik Prateshi yang terletak di Semarang, Salatiga, dan Jakarta. Sedangkan untuk kanal online, Pintya memasarkan produk batiknya di media sosial dan marketplace.

Hasilnya, dalam satu tahun, ia bisa meraup omzet antara Rp 250 juta sampai Rp 290 juta.

“Kalau secara bulanan, fluktuatif,” ujarnya.

Tak puas, Pintya terus berupaya memperbesar kapasitas bisnisnya hingga bisa naik kelas menjadi usaha kecil dan menengah, dari saat ini usaha mikro. Untuk itu, dia tengah mengembangkan produk batik motif ecoprint untuk segmen pria. Pasalnya, saat ini Batik Pratesthi hanya membidik pasar wanita.

Bukan cuma itu, Pintya juga sedang berupaya memasyarakatkan batik motif ecoprint bagi semua kalangan. Selama ini, ia membuka kelas pelatihan pembuatan batik motif ecoprint bagi para ibu-ibu rumahtangga di sekitar tempat tinggalnya.

Ke depan, ia mengharapkan, kampungnya di Semarang bisa menjadi tempat wisata edukasi batik dengan motif ecoprint.