idfakta.com – JAKARTA, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), untuk pertama kali membukukan pendapatan baru dari penjualan carbon credit pada tahun 2022. Hal itu, menjadi bukti transisi energi yang dilakukan PGEO diakui oleh berbagai lembaga.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Nelwin Aldriansyah, mengatakan sejumlah strategi dan upaya
transisi energi terus dilakukan dengan tetap menjaga kinerja keuangan yang solid.
Perdagangan karbon dilakukan pada unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang terhubung ke jaringan tenaga listrik PT PLN (Persero) dengan kapasitas lebih besar atau sama dengan 100 MW. Perdagangan karbon itu sendiri diimplementasikan melalui 2 mekanisme, yaitu perdagangan emisi dan offset emisi.
Hasilnya sangat menggembirakan, karena untuk pertama kalinya pada 2022, Pertamina Geothermal Energy (PGE) mencatatkan pos pendapatan baru dari penjualan carbon credit.
“Ini membuktikan bahwa operasional PGE telah mendapatkan sertifikasi dari berbagai lembaga karbon kredit sehingga PGE berhak untuk memonetisasi atas penjualan karbon kredit dari operasional PGE,” ujar Nelwin, Sabtu (18/3/2023).
Dia menjelaskan, monetisasi terus dilakukan PGEO untuk mengawal kinerja keuangan tetap solid dengan misalnya menjaga pendapatan, EBITDA margin maupun profit margin yang stabil hingga rasio utang yang terjaga.
Pada kuartal III 2022, Pertamina Geothermal Energy membukukan laba bersih sebesar 111 juta dolar AS, tumbuh 67,8 persen dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 66 juta dolar AS.
“Net profit margin pada sembilan bulan pertama 2022 mencapai 38,8 persen, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang hanya 24 persen,” ujar Nelwin.
Adapun, pendapatan perseroan hingga September 2022 sebesar 287 juta dolar AS, tumbuh 3,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 277 juta dolar AS.
Selain itu, perseroan juga berhasil mencatatkan EBITDA sebesar 244 juta dolar AS hingga September 2022, naik 10,1 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 221 juta dolar AS.
“EBITDA margin PGE pada kuartal III 2022 mencapai 84,7 persen, naik cukup tinggi dibandingkan tiga tahun terakhir yang berkisar di 80 persen,” ungkap Nelwin.
Sementara itu, total utang PGEO (utang jangka pendek dan jangka panjang) juga terus menurun, dari 1,18 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 931 juta dolar AS pada kuartal III 2022.
Adapun, rasio total debt terhadap EBITDA tercatat 4,6 kali pada 2019 dan turun menjadi 3 kali per September 2022, sedangkan net debt terhadap EBITDA turun menjadi 2,2 kali per September 2022, dari 4 kali pada 2019.
Nelwin mengungkapkan, sebagai perusahaan energi dengan kapasitas terpasang panas bumi terbesar di dunia, PGEO berkomitmen secara aktif terus melakukan transisi energi.
Editor : Jeanny Aipassa
Follow Berita iNews di Google News