Jelang Kunjungan ke China, Menlu Australia Minta Warganya Dibebaskan

idfakta.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Penny Wong menyerukan pembebasan warga negara Australia yang ditahan di wilayah China . Seruan ini disampaikan saat Wong bersiap untuk melakukan kunjungan bersejarah ke Beijing.

Seperti dilansir AFP, Selasa (20/12/2022), Wong akan menjadi diplomat top pertama Australia yang mengunjungi China dalam empat tahun terakhir. Kunjungan itu dimaksudkan untuk mencairkan hubungan kedua negara yang bermasalah.

Wong akan terbang ke Beijing pada Selasa (20/12) waktu setempat, untuk bertemu Menlu China Wang Yi yang juga menjabat penasihat negara. Dia mengindikasikan sebelum keberangkatannya bahwa masalah dua warga Australia yang ditahan di China akan menjadi salah satu agenda pembahasan.

Seorang jurnalis Australia bernama Cheng Li ditahan otoritas China sejak Agustus 2020 dan seorang warga Australia kelahiran China bernama Yang Jun ditahan sejak Januari 2019.

Disebutkan Wong bahwa pembebasan kedua warga Australia itu akan menghilangkan satu hambatan dalam upaya meningkatkan hubungan antara kedua negara.

“Saya pikir itu akan bermanfaat tidak hanya untuk individu-individu itu, yang menurut saya penting untuk hak mereka sendiri, tapi itu juga akan bermanfaat bagi hubungan pihak-pihak yang menangani masalah konsuler itu,” sebutnya.

Cheng yang merupakan ibu dua anak dan mantan penyiar berita televisi pemerintah China CGTN, ditangkap secara resmi pada Februari 2021 lalu dan didakwa ‘memasok rahasia negara ke luar negeri’.

Sedangkan Yang Jun yang menulis sejumlah novel bertema mata-mata dan memiliki blog berbahasa China terkenal, dituduh melakukan spionase dan telah diadili secara tertutup oleh Beijing.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Saksikan juga ‘Aksi Demo di Australia Hantui Apple: Pegawai Tuntut Naik Gaji’:

Kunjungan Wong ke China ini akan menjadi kunjungan pertama oleh seorang Menlu Australia, setelah kunjungan resmi terakhir dilakukan tahun 2018 lalu.

Hubungan Australia dan China sejak saat itu semakin memburuk. Kedua negara berselisih dalam sejumlah isu-isu politik dan moral, terutama soal operasi pengaruh China di luar negeri, pelanggaran HAM secara luas di Xinjiang, Hong Kong dan Tibet, serta peran Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia-Pasifik.

Pemimpin Partai Komunis China marah atas keputusan pemerintah Australia melarang perusahaan teknologi Huawei untuk mengoperasikan jaringan 5G di negara tersebut, dan seruan Canberra untuk menyelidiki asal-usul virus Corona (COVID-19) yang merajalela secara global sejak tiga tahun lalu.

Sebagai balasan, otoritas Beijing secara diam-diam menjatuhkan sanksi terhadap serangkaian produk Australia dan menerapkan pembekuan kontak level tinggi. Hubungan kedua negara yang membeku baru berakhir ketika Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese dan Presiden Xi Jinping bertemu langsung di Bali pada November lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam pernyataan pada Senin (19/12) waktu setempat mengatakan bahwa Beijing mengharapkan kunjungan Wong akan ‘memperkuat dialog, memperluas kerja sama dan menjaga perbedaan tetap terkendali, sembari mendorong hubungan bilateral kembali ke jalurnya’.

Canberra merupakan mitra dagang terbesar Beijing, dengan Australia masih memberikan banyak bijih, logam dan mineral yang mendorong pertumbuhan ekonomi China yang spektakuler.

error: Content is protected !!