Petugas Kebersihan Rumah Menteri Pertahanan Israel Coba Jual Informasi Negara ke Hacker, Dinyatakan Bukan Spionase

Petugas Kebersihan Rumah Menteri Pertahanan Israel Coba Jual Informasi Negara ke Hacker, Dinyatakan Bukan Spionase
Petugas Kebersihan Rumah Menteri Pertahanan Israel Coba Jual Informasi Negara ke Hacker, Dinyatakan Bukan Spionase

idfakta.com – Pengadilan Israel memenjarakan mantan petugas kebersihan rumah Menteri Pertahanan Benny Gantz, setelah dinyatakan bersalah karena berusaha memberikan informasi kepada kelompok peretas yang terkait dengan Iran.

Omri Goren (38 tahun), dijatuhi hukuman tiga tahun penjara berdasarkan kesepakatan pembelaan yang membuat jaksa membatalkan tuduhan spionase .

Kementerian Kehakiman Israel mengatakan Goren mengatakan kepada hacker Black Shadow bahwa dia dapat mengirim informasi tentang Gantz dan menaruh malware di komputernya dengan imbalan uang.

Tapi dia membantah sengaja mencoba memata-matai Iran, musuh bebuyutan Israel.

“(Dia) bukan mata-mata dan ini bukan skandal mata-mata,” kata pengacaranya seperti dikutip Times of Israel setelah sidang vonis pada Selasa (6/9/2022) sebagaimana dilansir .

“Ini tentang seorang pria yang mendapati dirinya terjerat utang dan mengidentifikasi pelanggaran keamanan,” tambah mereka.

Goren dilaporkan mengatakan kepada penyelidik bahwa dia telah merencanakan untuk mengelabui para peretas agar memberinya uang tanpa menyerahkan informasi apa pun.

Dakwaan awal yang dirilis November lalu menuduh bahwa Goren menghubungi Black Shadow di Telegram setelah membaca laporan media Israel tentang upaya peretasannya.

Untuk membuktikan bahwa dia bekerja untuk Gantz, dia mengirim foto barang-barang di rumah menteri pertahanan Israel , termasuk meja, komputer, brankas, dan catatan pajak, katanya.

Kementerian Kehakiman mengatakan upaya Goren digagalkan oleh dinas keamanan Shin Bet dan tidak ada materi rahasia yang terungkap.

Meski demikian, Shin Bet menghadapi pertanyaan tentang bagaimana Goren diizinkan bekerja untuk menteri pertahanan ketika dia sebelumnya telah dijatuhi hukuman penjara empat kali, termasuk karena perampokan bersenjata.

Badan itu kemudian mengakui “kegagalan prosedural” dalam cara dia diperiksa dan mengatakan protokol telah diperketat sebagai tanggapan.