Dear Bos CPO, Petani Sawit Beri Kabar Ngeri-ngeri Sedap Nih

idfakta.com – Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) Indonesia diprediksi bakal turun 11% tahun 2023. Bahkan, lebih buruk lagi, petani mengkhawatirkan produksi tandan buah segar (TBS) tahun 2023 bisa anjlok di tahun depan.

Hal itu menyusul kelangkaan dan mahalnya pupuk. Akibatnya, banyak petani yang memilih mengurangi dosis atau bahkan tak lagi melakukan pemupukan pohon.

Sebelumnya, persoalan pupuk untuk pertanian ini sudah menjadi sorotan, sebagai efek domino perang Rusia-Ukraina. Terbaru, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya di saat puncak KTT G20 menyinggung ancaman persoalan akibat krisis pupuk. Bahkan, bisa jadi momok penyebab tahun 2023 semakin suram.

“Sama-sama kita ketahui sudah satu tahun lebih terjadi kenaikan harga saprodi (sarana produksi) yang cukup signifikan, seperti pupuk, herbisida, dan pestisida. Sejak Januari lalu, kami mencatat kenaikan harga pupuk sudah sampai 300%, dan harga TBS anjlok sejak April 2022,” kata Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Gulat ME Manurung kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (13/12/2022).

“Turunnya produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat disebabkan oleh 3 hal utama. Yakni rendahnya harga jual TBS, naiknya harga pupuk, dan dihapusnya perkebunan sawit dari daftar penerima pupuk bersubsidi mulai Juli 2022,” tambahnya.

Akibatnya, dia menjabarkan, hanya tinggal 12% petani swadaya yang memupuk sesuai dosis, 18% setengah dosis, sisanya 70% sama sekali tak lagi memupuk.

Sementara, lanjut dia, luas lahan sawit petani di Indonesia adalah 6,87 hektare, di mana 93%-nya atau 6,38 juta hektare milik petani swadaya dan 480 ribu hektare lainnya milik petani bermitra.

“Lonjakan harga pupuk praktis menaikkan harga pokok produksi (HPP) dari Rp1.800 per kg TBS jadi Rp2.250 per kg. Sementara, per 10 Desember, harga TBS di 22 provinsi APKASINDO hanya Rp1.800-2.000 per kg TBS petani swadaya dan Rp2.350-2.600 per kg TBS mitra. Artinya, kami masih tekor Rp250-350 per kg,” paparnya.

“Survei kami menunjukkan sebagian besar petani tak lagi memupuk dan ini akan berdampak pada produktivitas yang 6,38 juta hektare tadi. Dan terbukti, produksi TBS petani sejak Agustus-November mulai anjlok 20-30%,” kata Gulat.

Jika berkepanjangan, lanjut dia, dengan 70% petani swadaya memilih tak lagi memupuk, produksi CPO dari petani tahun 2023 susut 5-11%.

“Jika tidak diatasi dengan segera, bukan tidak mungkin produksi TBS pekebun bisa anjlok sampai 50% di tahun 2023 dan hal ini berdampak kepada produksi CPO nasional,” katanya.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Hasril H Siregar menambahkan, pemupukan berdampak pada rendemen dan berlangsung tidaknya pembuahan pada tanaman sawit.

“Intinya, keseimbangan hara NPK Mg yang lebih dibutuhkan tanaman,” katanya.

“Pemupukan sangat krusial saat umur tanaman 4-7 tahun (tanaman muda) dan umur 8-16 tahun (tanaman dewasa). Umur di atas 17 tahun sudah tak krusial,” tambah Hasril.

Di sisi lain, Gulat memprediksi, penurunan produksi CPO nasional akan mendongkrak harga di pasar dunia.

“Tentu menurunnya secara nasional produksi CPO Indonesia akan memicu kenaikan harga CPO dunia karena ketersediaan CPO berkurang dari Indonesia. Apalagi di tengah krisis energi yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2022,” ujarnya.

“Saya yakin di tahun 2023 harga akan semakin baik. Pertama, jika B35-B40 jadi direalisasikan, kedua karena potensi menurunnya produksi CPO Indonesia dan naiknya kebutuhan energi dari minyak nabati,” pungkas Gulat.

Tradingeconomics mencatat, harga CPO hari ini, Selasa (13/12/2022 pukul 16.33 WIB) bergerak di US$3.878 per ton. Di mana, harga terendah tahun ini terjadi di 28 September yang anjlok ke US$3.226 per ton. Dan harga tertinggi terjadi di 29 April di level US$7.104 per ton.

error: Content is protected !!