News  

Kisah Seorang WNI Keturunan dan Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning, Menabur Benih Nasionalisme di Tanah Papua

Kisah Seorang WNI Keturunan dan Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning, Menabur Benih Nasionalisme di Tanah Papua
Kisah Seorang WNI Keturunan dan Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning, Menabur Benih Nasionalisme di Tanah Papua

TIMESINDONESIA, PALU – Merah putih sejatinya tak cuma terpancang secara fisik di tanah Papua, tapi di hati masyarakatnya. Tinggal kita semua yang membuatnya harus terus berkibar dan tetap terpancang kuat di hati sanubari.

Awal Juni 2022, tidak kurang 450 personel Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning diberangkatkan ke Papua. Pasukan tempur ini akan ditempatkan di wilayah Lanny Jaya, Wamena. Papua.

Yonif Mekanis 203/AK berada dibawah naungan Brigade Infanteri Mekanis 1 Pengaman Ibu Kota/Jaya Sakti, Kodam Jaya.

Personel Batalyon Infanteri Mekanis,  203/Arya Kemuning, Brigif Mekanis 1 PIK/Jaya Sakti Kodam Jaya tengah merehabilitasi Gereja Gumban Hidup Dan membangun MCK di Distrik Malagayneri, Lanny Jaya, Papua. (Foto : Dokumentasi Denny Silaban For Times Indonesia)

Alkisah, salah seorang di antara prajurit TNI Angkatan Darat yang dikirim itu adalah Kopral Satu Denny Silaban. Seorang Batak kelahiran Tanah Tapanuli yang tampangnya gahar dengan pahatan muka tegas, tapi berhati lembut dan ingin melayani negara dan sesamanya.

Di masa pra-tugas, Silaban menghubungi kawan lamanya Gunadi Karjono, seorang pegiat usaha material kesehatan dan perbekalan umum yang selama ini memang banyak bekerja di lingkungan TNI dan Markas Besar TNI sesuai spesialiasinya.

“Boss”, sapanya. Saya akan berangkat tugas ke Papua. Kalau-kalau saya tidak pulang dan gugur dalam tugas. Tolong Boss, titip anak saya, jadikan tentara seperti bapaknya.” Begitu pinta Silaban pada Gunadi.

Adapun Gunadi, cuma bilang untuk berpikir positif dan selalu waspada dalam bertugas. Utamakan keselamatan. Tetap utamakan perdamaian, menjadi bagian dari Papua. Gunadi menekankan semua akan baik-baik saja. Tetapi permintaan yang sama disampaikan kedua kalinya sehari sebelum akhirnya berangkat dari Kolinlamil, Tanjuk Priok, Jakarta. Dengan hati haru dan berempati, Gunadi mengiyakan permintaan Silaban. Amanat yang diberikannya akan dipemuhi, asal tetap mengutamakan keselamatan dan kehati-hatian dalam bertugas. Orientasi tugas berhasil menjadi tujuan utama.

Gunadi memohon hal ini harus selalu diterapkan oleh Silaban beserta semua personel yang dikirim ke Papua, khususnya yang bertugas di Distrik Malagayneri.

Menerima permintaan Silaban ini sampai dua kali. Gunadi menyadari apakah ini firasat buruk? Padahal sebagai kawan lama, hal buruk bukannya berita yang diinginkan terjadi. Dengan rasa sedih, iba, dan jiwa patriot yang membara, Gunadi memikirkan kekuatan atau bekal apa yang terbaik untuk dibawa atau dititipkannya pada Silaban dan seluruh anggota Pos.

Dengan menyadari bahwa rakyat Papua, mayoritasnya beragama Nasrani dan juga melekat dalam pikiran bahwa Papua daerah endemi Malaria, Gunadi mencari simbol keagamaan yang bisa didapat dalam waktu cepat. Akhirnya terpikir dan didapatkannya kalung salib kayu sebanyak 300 buah, dan buku renungan harian yang sudah lewat bulan.

Adanya buku ini sebanyak 300 buku ini juga dirasakannya seperti mujizat. Itu didapatkan dan didukung oleh Penerbit Renungan Harian secara cuma-cuma. Selain itu langkah awal Gunadi juga memberikan 30 liter obat nyamuk fogging untuk pengendalian malaria di daerah operasi. Ia berharap bekal yang dititipkannya itu sebagai penyampai pesan damai di hati warga papua.

Singkat kata, jejak awal Yonif Mekanis 203/AK akhirnya dipahatkan di lembah pegunungan Lanny Jaya. Bendera Merah Putih sudah dipancangkan dan dikibarkan di mana wilayah ini adalah salah satu wilayah terawan di daerah Pegunungan Tengah Papua.

Di kala sepi dan rindu pada tempat asalnya, Silaban selalu menjaga hubungan dengan saling tukar kabar dan kisah apa saja yang terjadi dan berkembang di Pos Malaygeyneri. Suatu saat, Silaban dalam komunikasinya menanyakan apakah Gunadi itu berkenan mendukung kegiatan kemasyarakatan di wilayahnya.

“Boss, saya boleh dibantu dukungan untuk kemanusiaan di sini?,” tanya Silaban.

“Ayook,” sahut Gunadi singkat dan tanpa bertanya apa-apa lagi.

Lalu Silaban pun menceritakan pemgalaman barunya tentang kondisi sosial ekonomi, lingkungan, kegiatan gereja dan kebiasaan masyarakat di sekitar Pos Malagayneri.

Kepada Gunadi, Silaban pun menyampaikan beberapa ide-idenya untuk pengalangan hati masyarakat setempat. Komandan Pos Letnan Dua Inf Sukamto dan Wakil Komandan Pos Letnan Dua Infanteri Siskamak pun sepakat. Gunadi pun bergerak cepat, sesuai gambaran yang diberikan yaitu menyiapkan bubuk kopi yg dikemas plastik sedang, baju, kaus, dan daster batik baru tapi sederhana. Bukan baju bekas layak pakai. Semua dalam kondisi baru berplastik rapi. Disiapkan pula kantong persembahan untuk kegiatan ibadah hari minggu dan poster-poster keagamaan dan perdamaian.

Berbelanja baju baru sederhana ini dilakukannya sendiri di bilangan pertokoan glosiran di daerah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Salah seorang penjual glosiran di Bandung sempat bertanya, baju-baju ini mau dijual kemana? Gunadi menyampaikan tujuan dari pembelian pakaian-pakaian ini adalah untuk aksi sosial dan kemanusian di pedalaman Papua. Sangat mengharukan, salah seorang pejual pakaian tersebut kemudian memberikan rabat khusus dan sebuah doa serta pengharapan dalam keislamannya.

“Pak, semoga berkah ya untuk Bapak ya, sudah berbuat untuk TNI dan saudara-saudara di Papua. Insya Allah, amal bapak akan dibalas Allah.”

Dan Gunadipun menyahut bahwa amal kebaikan dari Tuhan bukan buat dirinya, tapi untuk sang ibu penjual pakaian ini, karena sudah tergerak hatinya untuk berbuat untuk agamanya, negaranya, dan saudara-saudaranya dengan memberikan diskon lebih.

“Insya Allah berkah buat Ibu,” ungkap Gunadi sembari berdoa hanyalah Tuhan yang akan membalas kelembutan hatinya.

Dari Pegunungan Tengah Papua kemudian kabar gembira pun ng.

“Warga semua bahagia dan terharu. Baru kali ada pemberian semacam seperti itu kepada mereka. Apalagi pakaian daster batik yang mereka terima bukan bekas, tapi pakaian baru, dan merupakan barang istimewa untuk mace-mace Papua,” ungkap Silaban terharu.

Sejak saat itu, personel Yonif Mekanis 302/AK lebih diterima dengan hati oleh masyarakat setempat. Mereka bahkan berinisiatif membantu menjaga seluruh anggota Pos dan menjadi mata pertama pos terhadap keselamatan seluruh anggotanya.

Membenahi Gereja dan Membangun MCK

Yonif Mekanis 203/AK akhirnya bisa menyatu dan membaur dengan masyarakat setempat. Para Petarung Kuda Putih – demikian satuan ini melabeli diri – menjadi kian bersemangat. Mereka terus melakukan orientasi mencari tahu kondisi masyarakat dan lingkungan lebih seksama, serta berusaha mencari solusi bagi permasalahan masyarakat setempat.

Setelah Petarung Kuda Putih ini memetakan situasi lapangan didapatlah sejumlah simpulan. Mereka melihat rumah ibadah setempat jauh dari sederhana. Kebutuhan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) pun menjadi perhatian Danposdan Wadanpos, seluruh personel.

Lagi-lagi, Silaban mencoba menghubungi Gunadi, yang memang bersemangat mendukung Pos Malagayneri secara pribadi, dengan segala kebutuhan yang diperlukan untuk program-program sosial kemasyarakatan mereka.

Tak perlu bertanya ulang, dukungan dana materialpun diterima oleh bendahara Pos, dan Gunadipun berpesan untuk tidak menciptakan peluang menyelewengkan dana. Apa yang ditargetkan untuk program harus 100 persen terserap untuk program.

Gunadi menegaskan mencari nafkah itu penuh dinamika dan tidak mudah, jadi harus tepat sasaran, jujur dan transparan. Gayung pun bersambut, Gunadi yang mempunyai izin PBF (Perdagangan Besar Farmasi) menanyakan kondisi kesehatan anggota pos, dan apakah bekal obat-obatan cukup, dan sesuai niatnya dukungan bekal kesehatanpun sudah diterima dengan baik oleh Danpos Malaygayneri.

“Demi Indonesia dan Merah Putih,” katanya bangga.

“Saya siap mendukung sampai purna tugas, walaupun istri saya curiga karena uang pribadi terkuras nyaris abis,” begitu Gunadi menegaskan ke-Indonesiaan-nya, sambil terbahak bangga.

Gereja Gumban Hidup di Distrik Malagayneri Papua pun mereka mulai benahi. Personel Satgas Pos Malagayneri di bawah pimpinan Wadanpos Letda Inf Siskamak bersama 15 anggotanya mulai melakukan pembenahan gereja sejak Kamis, (8/9/2022).

Siskamak menyebut kegiatan ini merupakan satu di antara metode Pembinaan Teritorial (Binter) yang harus diterapkan dimana saja.

“Kami Satgas Satuan Organik Yonif Mekanis 203/AK akan terus berupaya menjalin kebersamaan dan gotong royong dengan asas memanusiakan manusia untuk persatuan dan kesatuan, serta menciptakan rasa persaudaraan dan perdamaian di lingkungan pos,” ujarnya.

“Gereja Gumban Hidup diperbaiki atapnya dan ditambah plafon di dalam gereja serta memperbaiki bagian gereja yang kira-kira sudah tidak layak apalagi saat ini sering sekali hujan,” ujar Danpos Letda Inf Sukamto.

Tentu saja, upaya para prajurit TNI Angkatan Darat ini, diapresiasi Gembala Gereja Gumban Hidup. Pendeta Yus Kogoya menyampaikan ucapan terima kasih karena gerejanya terlihat lebih baik, rapi, bersih dan nyaman. Sehingga masyarakat lebih hikmat dalam melaksanakan kegiatan ibadah setiap pekan.

“Kami dan masyarakat Distrik Malagayneri mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak-bapak TNI khususnya Pos Malagayneri yang telah bersemangat berbuat untuk memperbaiki Gereja Gumban Hidup. Semoga Tuhan membalas kebaikan bapa-bapa TNI semua dan semoga bapa-bapa TNI selalu diberikan keselamatan dalam menjalankan tugasnya”, ungkap dia.

Yang dirasa cukup spesial adalah terpikirnya program pembuatan fasilitas MCK. Dibuatlah satu buah MCK di lingkungan gereja. Masyarakat diberi pengetahuan kebersihan dan kesehatan lingkungan, dimana dampaknya akan meningkatkan kebersihan dan kesehatan pribadi warga setempat.

Masyarakat Malagayneri pun sumringah. Selain gerejanya tampak dengan wajah baru, lingkungan sekitarnya pun tertata. Mereka pun bisa hidup lebih sehat lagi.

Bagi para personel Yonif Mekanis 203/AK dan Seorang Gunadi Karjono, ini bukan cuma darma bakti hari ini saja. Ini seperti menabur, menyiram, dan menumbuhkan nasionalisme di ujung timur Tanah Air Indonesia.

Sebagai prajurit TNI yang kerap di lapangan, Silaban rupanya punya filosofi melihat nasionalisme Indonesia di Tanah Papua itu. Menurutnya, seluruh personel Yonifmek, tak hendak ng meng-Indonesia-kan orang Papua, sebab mereka adalah orang Indonesia sejati. Justru, bagi personel Yonifmek, merekalah yang belajar menjadi dan menyatu dengan orang Papua yang penuh cinta pada Indonesia. Para personel Yonifmek belajar persaudaraan dan kemanusiaan dari Orang Papua.

Merah putih sejatinya tak cuma terpancang secara fisik di tanah Papua, tapi di hati masyarakatnya. Tinggal kita semua yang membuatnya harus terus berkibar dan tetap terpancang kuat di hati sanubari. Keberhasilan tugas ini kelak adalah untuk Indonesia di mana nama bangsa dan negara Indonesia semakin dicintai dan dihormati. Bersama TNI dan seluruh komponen bangsa dengan kebhinekaannya, Indonesia akan kian kuat. Jayalah Indonesia.(*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.


Artikel ini bersumber dari news.google.com.