News  

Pemkab Pacitan Siapkan Masterplan Penanganan Banjir Kota, Seperti Apa? 

Pemkab Pacitan Siapkan Masterplan Penanganan Banjir Kota, Seperti Apa? 
Pemkab Pacitan Siapkan Masterplan Penanganan Banjir Kota, Seperti Apa? 

TIMESINDONESIA, PACITAN – Tak ingin bersanding dengan genangan air, Pemkab Pacitan, Jawa Timur tengah mempersiapkan masterplan penanganan banjir, khususnya di wilayah kota. Banjir kota ini menjadi atensi khusus untuk segera ditangani. 

Curah hujan tinggi menyebabkan drainase meluap lantaran tak mampu menahan arus. Pasalnya, semakin tahun sedimen juga menyumbat aliran sungai. Seperti di Kali Kunir Jalan Letjen S Parman dan di Letjen Suprapto Kelurahan Sidoharjo. 

Belakangan, pusat pemerintahan Kantor Bupati Pacitan dan alun-alun tak luput dari sasaran banjir, bahkan begitu kerap terjadi. 

Pemkab Pacitan tengah menyiapkan masterplan penanganan banjir kota. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Air Minum Dinas PUPR Pacitan, Tonny Setiyo Nugroho dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan penanganan secara bertahap namun masih skala prioritas. Hal ini sesuai kesepakatan rapat koordinasi lintas OPD. 

“Pertama adalah pemetaan dan mengkaji ulang pemetaan drainase untuk rehab. Sementara ini masih fokus sekitar Kantor Bupati,” katanya, Selasa (8/11/2022). 

Tonny menambahkan, supaya pekerjaan tidak terasa berat, pihaknya sudah mengawali pengerukan sedimen dua titik, yakni Kelurahan Tanjungsari dan Lingkungan Teleng sejak dua minggu terakhir.

“Kami cicil dulu selama dua minggu terakhir di Pembangunan dan Teleng,” imbuhnya. 

Lebih lanjut, kata Tonny, sebelum akhir tahun 2022, seluruh elemen masyarakat bersama OPD juga digerakkan untuk kerja bakti membersihkan selokan. 

“Sabtu-Minggu nanti kami sepakat melakukan kerja bakti bersih-bersih selokan bersama TNI, Polri, pemangku kecamatan, kelurahan dan warga, semoga cuaca tidak ekstrem,” terangnya. 

Sebagai tindak lanjut, awal tahun 2023 baru dilakukan eksekusi, yakni pengerukan busem yang berada di Blimbing, Pucangsewu. Selama dua tahun terakhir, penampungan air tersebut belum dapat berfungsi optimal lantaran banyaknya tumpukan sedimen. 

“Belum ada lima tahun sudah penuh sedimen, akhir 2021 lalu dikeruk, tapi saat ini penuh lagi, sehingga tak mampu menahan air dari hulu,” ungkapnya. 

Selain itu, pihaknya juga mengakui, jika penanganan banjir kota selama ini memang terkesan lemot dan kocar-kacir. Badai pandemi semakin membuat anggaran perawatan tersendat. Belum lagi ada pengalihan tata guna ruang bangunan. Beberapa kawasan sawah, kini ditimbun untuk bangunan. 

“Mohon dimaklumi setelah dua tahun krisis pandemi kocar-kacir tak ada biaya pemeliharaan. Kalau rehab semuanya mungkin butuh Rp1 miliar lebih,” ucap Tonny. 

Namun demikian, semua pihak diminta untuk kembali menggalakkan gotong royong kerja bakti secara rutin guna mengurangi sumbatan sedimen yang disinyalir menjadi salah satu penyebab banjir kota selama ini. 

“Mari kita galakkan kembali budaya gotong royong dan kerja bakti, sementara itu yang bisa dilakukan. Setidaknya mampu mengurangi risiko bencana yang lebih besar dampaknya,” pungkas Kabid PLAM Dinas PUPR Pacitan Tonny Setiyo Nugroho terkait upaya penanganan banjir. (*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.


Artikel ini bersumber dari news.google.com.