News  

Resesi 2023 Menghantui, Lebih Baik Realistis Menghadapi Kemungkinan Terburuk

Resesi 2023 Menghantui, Lebih Baik Realistis Menghadapi Kemungkinan Terburuk
Resesi 2023 Menghantui, Lebih Baik Realistis Menghadapi Kemungkinan Terburuk

PIKIRAN RAKYAT – Perekonomian dunia dilanda ketidakpastian. Inflasi melonjak akibat terganggunya rantai pasok (supply chain) dunia. Saat permintaan mulai pulih usai dua tahun dilanda pandemi Covid-19, ternyata pasokan tidak serta merta dapat mengimbanginya.

Mismatch antara permintaan dan penawaran menyebabkan kenaikan harga berbagai komoditas. Kondisi itu kian diperparah tak kunjung usainya konflik Rusia-Ukraina. Sejak konflik itu meletus Februari 2022, harga berbagai komoditas bergejolak.

Kenaikan harga energi menyebabkan lonjakan inflasi di Eropa dan Amerika Serikat. Amerika Serikat mencatat inflasi 9,1 persen pada Juli 2022 dan merupakan angka tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Pada September 2022, negara-negara Uni Eropa bahkan mengalami inflasi 9,9 persen.


“Akibat inflasi, pasar keuangan bergerak volatil, terutama setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan secara eksesif. Capital outflow di pasar saham dan surat utang menjadi tak terhindarkan. Tak hanya itu, lebih dari 60 negara menghadapi risiko gagal bayar utang. Pasalnya, tidak sedikit negara yang memiliki rasio utang di atas 60 persen terhadap PDB,” kata Wakil Menteri Keuangan Suahazil Nazara, baru-baru ini.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa Indonesia cukup tangguh menghadapi ancaman resesi. Alasannya, setakat ini, konsumsi domestik masih terjaga, investasi meningkat, dan aktivitas produksi dalam taraf ekspansif.


Hal itu terlihat dari level purchasing managers index (PMI) yang berada di atas 50. Berkat kenaikan harga komoditas, neraca perdagangan Indonesia surplus selama 29 bulan berturut-turut.

“Apalagi, rasio utang Indonesia terhadap PDB relatif rendah, yakni berada di angka 39 persen,” kata Suahazil.

Selain itu, berdasarkan prediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3 persen dengan tingkat inflasi 3,6 persen.

Saat ini, tingkat inflasi Indonesia 5,59 persen dan angka itu dinilai masih dapat ditangani (manageable), apalagi ditopang peran APBN sebagai shock absorber.


Artikel ini bersumber dari news.google.com.