Strategi Kosmetik Lokal Hadapi Serbuan Kosmetik Cina

Strategi Kosmetik Lokal Hadapi Serbuan Kosmetik Cina
Strategi Kosmetik Lokal Hadapi Serbuan Kosmetik Cina

idfakta.com – JAKARTA – Serbuan kosmetik Cina mengancam industri kecantikan Indonesia. Sebagian kosmetik tersebut telah terdaftar di BPOM, berharga lebih murah, dan masif beriklan di sosial media. Ini strategi kosmetik lokal menghadapinya.

“Belakangan ini banyak kosmetik dari Cina yang beriklan di sosial media seperti Tiktok. Sebagian terdaftar di BPOM dan harganya pun lebih murah bisa sampai 10% dibanding local brand,” kata Kim, pemilik perusahaan maklon kosmetik PT Nose Herbalindo dalam acara Future of Retail in the Beauty Industry di BNI Investor Daily Summit 2022, di JCC, Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Mengapa harga lebih murah? Kim yang sudah membuat kosmetik termasuk skincare untuk ribuan brand di Indonesia memaparkan, sebagian besar bahan baku diimpor dari luar negeri, termasuk Cina. “Jadi karena bahan bakunya sebagian memang dari Cina dan tenaga kerja di Cina pun murah, otomatis harganya ketika dijual ke Indonesia menjadi murah,” papar Kim yang membuatkan kosmetik dan skincare untuk brand seperti Somethinc, N’Pure, White Lab, Everwhite, Evershine, Maska, MS Glow, Satellite of Glow, dan lain-lain.

Murahnya harga jual kosmetik Cina itu menurut Kim dapat mengancam kosmetik brand lokal. “Kalau semakin banyak, ini bisa mengancam pasar kosmetik lokal,” ujar Kim menyebut sejumlah merek kosmetik dari Cina, diantaranya Skintific, Bare n Bliss, Sea Makeup, Grace and Glow, The Originote, Elformula, Breylee, Bio Aqua, dan Acnaway.

Namun kata Kim, perusahaan maklon kosmetik dapat tetap mengambil peluang dengan masuknya kosmetik dari luar negeri, termasuk Cina. “Perusahaan maklon kosmetik yang juga memiliki divisi distribusi bisa bekerja sama dengan menjadi distributor kosmetik dari Cina,” kata Kim.

Sementara itu Co-founder Esqa Cosmetik Kezia Trihatmanto mengatakan, pasar Indonesia sudah cukup cerdas untuk memilih kosmetik. “Pasar Indonesia sudah cerdas untuk memilih kosmetik yang berkualitas. Karena itu, pasar pada akhirnya akan terbentuk masing-masing,” ujar Kezia yang 90% mengandalkan penjualan online lewat website, marketplace, dan media sosial.

Bagi pelaku marketplace, kehadiran kosmetik dari luar negeri, termasuk Cina menjadi semakin meramaikan pasar kosmetik dalam negeri. “Prinsip Sociolla, selama produk tersebut terdaftar di BPOM dan masuk secara legal, tidak apa-apa. Yang harus dikhawatirkan konsumen adalah kosmetik yang tidak terdaftar di BPOM dan tidak bisa ditelusuri bagaimana kandungan dan proses pembuatannya di ujung sana,” kata CEO Sociolla John Marco Rasjid.(