Wisata  

Toko Merah Jakarta Barat

idfakta.com – Lokasi: Jl. Kali Besar Barat No. 11, Pinang Siang, Tambora, RT.7/RW.3, Roa Malaka, Kota Jkt Barat 11230Maps: Klik DisiniHTM: Rp.10.000 per OrangBuka Tutup: 09.00 – 16.30 WIBTelepon: 021 91633429

Jakarta tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia yang menjadikan burung Garuda sebagai Lambang Negara ini.

Selain berfungsi sebagai ibukota negara saat ini dan pusat ekonomi, bisnis dan juga hiburan, ternyata Jakarta memiliki keterikatan sejarah dengan pemerintah Hindia Belanda.

Cukup wajar mengingat pada masa penjajahan Belanda di kota Jakarta yang dahulu bernama Batavia ini menjadi pusat pemerintahan VOC.

Hal ini semakin terbukti dengan banyaknya peninggalan-peninggalan seperti bangunan dan beberapa dokumen lainnya yang masih ada hingga sekarang ini.

Jakarta menjadi salah satu kota yang masih menyisakan bangunan-bangunan heritage dan menjadi salah satu saksi bisu sejarah ketika para penjajah Belanda menguasai Indonesia.

Selain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tulungagung, Surabaya hingga kota-kota di luar Jawa masih memiliki beberapa bangunan heritage tersebut.

Di Jakarta ini terdapat Kota Tua yang di dalamnya masih banyak bangunan-bangunan heritage yang dipertahankan hingga saat ini.

Hal ini bertujuan untuk mengingat kisah historis dari kehidupan Jakarta pada tempo dulu. Salah satu bangunan yang menarik dan juga masih dipertahankan adalah Toko Merah.

Mengenal Toko Merah

Jika para wisatawan hendak berlibur dan juga mengetahui sejarah kota Jakarta, tidak pas rasanya jika tidak bertandang ke kawasan wisata Kota Tua.

Di sini ada sebuah bangunan unik yang bernama Toko Merah. Bentuk bangunannya sendiri sangat artistik dengan gaya arsitekturnya unik dan mengedepankan akulturasi antara gaya Tionghoa klasik.

Dan tentu saja dengan nama Toko Merah maka bangunan ini pun sangat kental dengan warna merah.

Warna merah hati ini bukan hanya di area eksterior saja. Akan tetapi hampir di semua bangunan termasuk di area interior juga mengedepankan warna merah hati yang cukup unik.

Ditambah lagi dengan adanya ukiran-ukiran serta hiasan yang juga memiliki nuansa warna merah sehingga cukup menarik.

Toko Merah ini memang bukan hanya ada di Jakarta saja. Akan tetapi di kota Daerah Istimewa Yogyakarta atau biasa disebut DIY dan Jogja ini juga terdapat Toko Merah.

Hanya saja toko yang dimaksud bukanlah bangunan heritage yang menjadi saksi sejarah pemerintahan Belanda.

Toko yang ada di kota pelajar ini berupa toko alat tulis atau stationary yang letaknya ada di beberapa tempat.

Toko Merah di Jogja ini pertama kali dibangun di jalan Kaliurang atau biasa disebut Jakal yang letaknya berada di Kabupaten Sleman.

Selain itu juga ada di daerah Gejayan. Toko Merah di Jogja tentu saja menjadi salah satu kisah sejarah untuk para mahasiswa yang pernah mengabdi ilmu di sini.

Sejarah Singkat

Gedung Toko Merah ini mempunyai cerita sejarah yang cukup panjang. Pada awalnya Toko Merah ini adalah salah satu tempat kediaman dari tokoh penting dari VOC yang ada di Batavia.

Gedung yang dibangun pada tahun 1730 ini memang menjadi salah satu rumah para petinggi VOC.

Ketika itu Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff merupakan penghuni pertama dari tempat tinggal di Toko Merah ini.

Sementara pada selang waktu antara tahun 1768 – 1808 ini Toko Merah akhirnya dirubah fungsinya menjadi hotel khusus untuk para pejabat VOC dan Belanda yang datang ke kota Batavia ini.

Selain menjadi tempat untuk Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, tempat ini juga pernah menjadi tempat untuk Gubernur Jenderal Jacob Mossel di tahun 1750 – 1761.

Serta Petrus Albertus van der Parra di tahun 1761 – 1775, Reinier de Klerk tahun 1777 – 1780 juga Nicolaas Hartingh serta Baron von Hohendorff.

Sementara di tahun 1743 – 1755 ini Toko Merah menjadi tempat untuk Kampus dan Asrama Académie de Marine yaitu akademi angkatan laut.

Dan di tahun 1786 – 1808 fungsinya diubah menjadi hotel para pejabat. Sedangkan di tahun 1809 – 1813 Anthony Nacare akhirnya mengubah menjadi tempat tinggal untuk dirinya yang lengkap dengan bendera Belanda di bagian puncak.

Di tahun 1920 NV Bouw Maatschappij memugar dan membongkar Toko Merah dengan biaya sekitar satu juta gulden. Dan Bank Voor Indie kembali memugarnya di tahun 1925 untuk dijadikan sebagai kantor.

Setelah itu Biro dan Kantor Dagang Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij dan WM Muller. & Co sempat menempati kantor tersebut.

Dan di tahun 1934 – 1942 diambil alih oleh Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg yang menjadikan Toko Merah sebagai kantor mereka.

Setelah Indonesia jatuh ke tangan Jepang, Toko Merah juga terkena imbasnya. Gedung ini dijadikan tempat Dinas Kesehatan Tentara Jepang sampai Indonesia merdeka dan Jepang meninggalkan Indonesia.

Setelah ditinggal oleh Jepang, Toko Merah dijadikan kantor oleh PT. Satya Niaga di tahun 1964. Dan di tahun 1977 PT Dharma Niaga (Ltd) mengambil alih gedung tersebut dan digunakan sebagai kantor utama.

Di di periode tahun 1990an, akhirnya Toko Merah dijadikan Bangunan Cagar Budaya yang ditetapkan dalam peraturan UU No. 5 Tahun 1992 dan juga Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 pada tanggal 29 Maret Tahun 1993.

Usai Indonesia merdeka, Toko Merah ini sempat berpindah tangan. Mulai dari perorangan hingga ke perusahaan lainnya.

Dan di tahun 2012 Toko Merah mengalami restorasi ulang yang ditujukan untuk memelihara serta mempertahankan bentuk aslinya. Dan sekarang bangunan tersebut kerap dijadikan tempat pameran dan kawasan wisata.

Kawasan Wisata Sejarah

Ternyata Toko Merah ini memang tidak pernah sepi oleh pengunjung. Ada saja para wisatawan yang ingin melihat dan mengetahui kisah sejarahnya.

Selain kisah sejarah, bangunan ini sangat unik dengan tembok yang di cat warna merah mustika delima cerah dan elegan.

Bangunan tua ini sekarang sudah menjadi salah satu cagar budaya yang masuk ke dalam perlindungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bangunan Toko Merah ini mempunyai berbagai macam ruangan. Untuk area lantai dasar sendiri sudah ada sekitar 16 buah kamar yang terdiri dari 8 buah di sebelah utara dan 8 di sebelah selatan.

Sementara bergerak ke lantai dua ini sudah ada 4 buah kamar sedangkan di lantai tiga terdapat sekitar 5 buah kamar.

Tidak heran banyak wisatawan mengunjungi bangunan ini untuk melihat kemegahannya. Apalagi dengan banyak kamar dan ruangan.

Fungsi Toko Merah ini sebagai kantor dan pernah menjadi gudang untuk penyimpanan beras, gula hingga buah dan anggur di zaman Belanda dulu.

Toko Merah memang pernah jaya bahkan hingga saat ini banyak yang ingin ke sini. Apalagi dengan mitos, misteri dan cerita angker yang menyelimutinya

Kisah Misteri

Di balik kemegahan dan keeleganannya Toko Merah ini, bangunan yang berdekatan dengan pasar Asemka serta Tanjung Duren ini memiliki cerita legenda yang sarat akan kisah mistis.

Dan cerita angker ini ternyata sudah cukup terkenal dan menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Dan nama Toko Merah ini kabarnya diambil usai peristiwa menegangkan yaitu Geger Pecinan yang ketika itu banyak membawa korban.

Menurut cerita bahwa di Toko Merah ini dahulu menjadi tempat pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.

Mayat-mayat dari para keturunan Tionghoa ini dibuang di sekitar Kali Besar yang letaknya berada di depan gedung.

Dan dari bangunan ini bisa melihat permukaan air dari Kali Besar berwarna merah darah. Dan ternyata bukan itu saja, bangunan tersebut juga menjadi tempat penyiksaan untuk para gadis.

Menurut cerita dari pemandu wisata Toko Merah ini banyak gadis yang disiksa tidak wajar hingga meninggal. Tidak salah jika bangunan tersebut sarat akan cerita angker.

Banyak cerita dimana salah satunya adalah terdengar suara langkah prajurit, nona Belanda dengan mengenakan gaun, adanya burung putih beterbangan di malam hari, suara tangis dan teriakan gadis yang sangat menyayat hati.

Harga Tiket Masuk

Bagi yang ingin mengunjungi kawasan wisata Toko Merah yang beralamat di Kali Besar Barat ini bisa menggunakan Trans Jakarta Koridor 12 jurusan Pluit – Tj Priok dan halte di Kali Besar Barat.

Bisa juga menggunakan kendaraan pribadi yang bisa menggunakan jalan tol menuju ke arah Tanjung Priok atau Tol Dalam Kota.

Pasti ada yang bertanya-tanya berapa harga tiket masuk Toko Merah ? Ternyata sangat murah sekali. Cukup membayar 10 ribu saja sudah bisa menikmati objek wisata satu ini.

Sementara jam buka atau jam operasional jam 9 pagi sampai jam 16.30 WIB. Dengan biaya yang murah para wisatawan bisa melihat isi dari Toko Merah dan mendapatkan kisah sejarah di dalamnya.

error: Content is protected !!